Rahayu Saraswati Tekankan Pemahaman Pancasila dalam Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan

JAKARTA, Pilarnesia.com — Anggota MPR RI, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, menegaskan pentingnya pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai kebangsaan dalam kegiatan sosialisasi Empat Nilai Kebangsaan. Kegiatan tersebut berlangsung di Yaskum Indonesia, Jakarta Barat, Selasa (31/3/2026), dan diikuti sekitar 150 peserta dari Tunas Indonesia Raya (TIDAR), unsur karang taruna, rembuk pemuda, serta masyarakat.

Dalam paparannya, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI itu menekankan bahwa Pancasila harus menjadi fondasi utama dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia mengingatkan bahwa seluruh produk hukum di Indonesia wajib selaras dengan nilai-nilai Pancasila.

“Fondasi dari empat nilai kebangsaan adalah Pancasila. Undang-Undang Dasar, seluruh peraturan perundang-undangan di Indonesia, hingga peraturan daerah tidak boleh bertentangan dengan Pancasila,” kata Rahayu Saraswati.

Sebagai Ketua Tunas Indonesia Raya (Tidar), ia menegaskan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai simbol semata, melainkan harus diimplementasikan dalam kebijakan publik maupun kehidupan sehari-hari. Menurutnya, pemahaman terhadap nilai-nilai dasar ini menjadi kunci dalam menjaga keutuhan bangsa.

Rahayu Saraswati kemudian menguraikan makna lima sila Pancasila sebagai pedoman utama dalam kehidupan berbangsa. Ia menjelaskan bahwa sila pertama menekankan kebebasan beragama yang dijamin bagi setiap warga negara.

“Para pendiri bangsa sepakat merumuskan lima sila dalam Pancasila. Sila pertama tidak menyebutkan Tuhan dari agama tertentu karena inti dari sila tersebut adalah kebebasan beragama. Setiap pemeluk agama dijamin kebebasannya untuk beribadah, dan hal ini dilindungi oleh Pancasila, khususnya sila pertama,” jelas Rahayu Saraswati.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa sila pertama mencerminkan hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan sekaligus mengajarkan pentingnya toleransi dalam keberagaman.

“Sila pertama mencerminkan hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan. Artinya, setiap orang memiliki keyakinannya masing-masing, dan kita diajak untuk saling menghormati serta hidup dalam keberagaman,” sambung Rahayu Sarawati.

Ia melanjutkan bahwa sila kedua mengatur hubungan horizontal antarmanusia yang harus dilandasi nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Nilai ini, menurutnya, menjadi dasar dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.

“Sila kedua berkaitan dengan hubungan horizontal antarmanusia. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus saling memperlakukan dengan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab,” tegas legislator Gerindra ini.

Setelah hubungan sosial terbangun dengan baik, masyarakat Indonesia diingatkan akan pentingnya persatuan di tengah keberagaman latar belakang. Persatuan, menurutnya, menjadi kekuatan utama bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan.

“Setelah membangun hubungan yang baik secara horizontal, kita menyadari bahwa kita bersatu dalam satu bangsa, satu negara, dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Meskipun berbeda agama, suku, dan ras, kita tetap satu dalam persatuan Indonesia,” ungkap Rahayu Saraswati.

Ia juga menegaskan pentingnya supremasi hukum sebagaimana terkandung dalam sila keempat, sebagai dasar dalam kehidupan bernegara yang tertib dan adil.

“Sila keempat menjelaskan bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara harus diatur oleh hukum dan aturan. Tanpa hukum, kehidupan akan dikuasai oleh hukum rimba,” Sambung Rahayu Saraswati.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa tujuan akhir dari kehidupan berbangsa dan bernegara adalah terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana tercermin dalam sila kelima. Keadilan sosial, menurutnya, berarti setiap warga negara memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk hidup layak, memperoleh pendidikan, pekerjaan, serta kesejahteraan.

Kegiatan sosialisasi ini berlangsung dalam format dialog interaktif yang memberi ruang bagi peserta untuk berdiskusi secara langsung. Rahayu Saraswati berharap, pemahaman terhadap Empat Nilai Kebangsaan dapat semakin menguat dan diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, khususnya oleh generasi muda.

You might also like