Hasan Nasbi Kritik Provokasi di Momen Silaturahmi: Tak Paham Esensi Demokrasi

JAKARTA, Pilarnesia.com — Hasan Nasbi merespons video pernyataan seorang pimpinan lembaga survei dalam sebuah acara halalbihalal. Hasan mengaku miris menyaksikan pernyataan provokatif pimpinan lembaga survei tersebut.

Pimpinan lembaga survei itu, Hasan mengungkapkan, ingin menjatuhkan pemerintahan yang sah tanpa melalui proses demokrasi hanya karena petahana bukan pihak yang didukungnya saat Pemilu 2024 lalu.

“Mungkin hasrat untuk berkuasa tanpa Pemilu ini meronta-ronta dalam jiwa mereka. Mereka ingin menempuh sebuah jalan untuk berkuasa tanpa melalui proses demokrasi. Mereka itu mengakunya pejuang demokrasi, tapi enggak pernah mau paham apa esensi demokrasi. Kalau perebutan kekuasaan dalam demokrasi itu difasilitasi kok lewat Pemilu,” kata Hasan dalam akun Youtube resminya, dikutip pada Minggu (5/4).

Hasan pun merasa heran karena provokasi tersebut datang dari seorang pimpinan lembaga survei yang juga pakar di bidang ilmu politik. Ajakannya mengatasnamakan kepentingan rakyat, sementara tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan saat ini tinggi.

Pimpinan lembaga survei yang hidup dari sistem demokrasi, tapi malah tidak menghormati proses demokrasi. Mengeklaim kepentingan pribadinya sebagai ‘kepentingan rakyat’.

“Sebagai konsultan politik kan beliau juga kaya raya dari proses demokrasi. Proses Pilkada, proses Pilpres, proses Pileg. Klien-kliennya presiden dulu, calon presiden, partai politik, caleg-caleg, dan yang hari ini dia hina semua itu. Presidennya dia hina, partai politiknya dia hina, caleg-calegnya dia hina. Dia juga seorang Pollster yang harusnya paham data,” ujar Hasan.

Di setiap masa pemerintahan, lanjut Hasan, memang ada saja pihak-pihak yang ingin menjatuhkan pemerintahan sah tanpa melalui proses yang demokratis. Tapi di tengah dinamika global saat ini, provokasi tersebut sungguh tidak tepat. Dalam kondisi seperti sekarang, persatuan sangat dibutuhkan agar bangsa Indonesia dapat mengatasi berbagai tantangan.

“Ketika situasi ekonomi dunia kacau balau, situasi keamanan dunia juga sedang tidak baik-baik saja, cuaca panas di luar, ada banyak pertengkaran di luar negeri. Tapi di dalam negeri, orang-orang yang mengaku pejuang demokrasi ini juga memanas-manasi susana. Kan yang kita butuhkan hari ini adalah persatuan, kerja sama. Ada satu semangat, satu hati, satu perasaan untuk menjaga bangsa kita bisa melalui keadaan yang sulit ini dengan baik. Ini kok malah mengacak-acak, malah memprovokasi supaya pemerintahan tumbang,” ucap Hasan.

Menurut Hasan, kritik adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Tapi provokasi untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah tanpa melalui proses yang konstitusional merupakan pelangggaran terhadap demokrasi.

“Kritik itu enggak masalah. Silakan kritik pemerintah sekeras-kerasnya, dan pemerintah harusnya juga boleh menjelaskan pembelaannya seterang-terangnya. Itu esensi demokrasi yang bisa kita terima. Tapi kalau pemerintah tidak melakukan pelanggaran, tidak melakukan kesalahan melanggar Undang-Undang, tidak menabrak konstitusi, tapi Anda ingin mengajak masyarakat untuk menjatuhkan presiden karena perasaan Anda tidak terpenuhi, karena keinginan Anda tidak tercapai, itu sesuatu hal yang tidak bisa diterima,” tegasnya.

You might also like